Semenjak memasuki usia 25 tahun, banyak hal jadi lebih mudah nangkring di otak. Tiba-tiba ingin ini, ingin itu, lalu muncul lagi keinginan baru sebelum yang lama benar-benar sempat diurus. Semuanya datang dan pergi, bertumpuk jadi ingatan dan pikiran yang rasanya nggak pernah habis.
Salah satunya keinginan untuk mengaktifkan lagi dunia menulisku. Butuh waktu bertahun-tahun sampai akhirnya muncul tekad, “Kayaknya sekarang waktunya nulis.” Dulu, alasanku menulis cuma untuk ngilangin rasa jenuh dan gabut. Tapi makin dewasa, aku sadar kalau menulis itu penting. Supaya benang-benang pikiran yang berantakan bisa sedikit terurai. Supaya keinginan, impian, dan pemikiran nggak cuma lewat begitu saja.
Awalnya, aku sempat ragu buat mulai nulis blog lagi. Pertanyaan klasik muncul: “Bisa nggak ya konsisten?”. Tapi, kalau mikir begitu terus, ya, nggak akan ke mana-mana. Mirip kayak orang yang bertanya, “Bisa nggak ya aku mahir di bidang A?”, tapi nggak pernah benar-benar mau mencoba.
Akhirnya, ini jadi tulisan baruku di tahun ini. Lucunya, barunya bukan di blog baru (wkwk). Mungkin memang butuh waktu merapikan blog yang sudah agak usang ini. Nggak apa-apa. Pelan asal jalan. Semangat untuk aku!
Sebelum tulisan ini jadi, aku melatih diri dengan journaling. Yap, nulis-nulis di buku catatan. Aku lakuin hampir tiap hari, atau setidaknya saat otak lagi penuh banget. Ternyata, journaling bantu aku ngasih sedikit ruang istirahat buat otak. Oh iya, journaling itu beda dengan diary, ya.
Perbedaan Journaling dan Diary
Banyak orang mengira journaling itu sama dengan nulis diary. Padahal, walaupun mirip, rasanya agak beda. Diary biasanya berisi cerita harian. Tentang apa yang terjadi hari ini, ketemu siapa, ke mana saja, atau kejadian apa yang berkesan. Lebih ke dokumentasi hidup, supaya suatu hari nanti bisa dibaca ulang dan diingat lagi.
Sedangkan journaling lebih ke ngeluarin isi kepala. Nggak harus rapi, nggak harus urut, bahkan nggak harus masuk akal. Bisa berupa keluhan, pikiran random, rasa capek yang nggak tahu datang dari mana, atau pertanyaan-pertanyaan kecil yang muter terus di otak.
Kalau diary fokus ke “hari ini aku ngapain”, journaling lebih ke “sebenarnya aku lagi mikirin apa sih?” Dan dari situ, biasanya muncul rasa lega.
Kalau kamu baru mulai, journaling juga nggak harus ribet. Aku sendiri biasanya membaginya ke beberapa topik sederhana:
- Apa yang aku lakukan hari ini?
- Apa yang aku syukuri hari ini?
- Apa yang aku rasakan hari ini?
- Harapan atau keinginan yang terlintas hari ini.
- Hal yang ingin aku lakukan besok.
Itu pun bukan aturan baku. Kamu bisa menyesuaikan dengan apa yang perlu kamu keluarkan dari kepala. Di media sosial juga banyak contoh journaling yang estetik banget. Tapi kalau kamu bukan tim estetik, nggak apa-apa. Aku juga lebih sering cuma nulis tanpa desain apa pun. Karena poin utamanya bukan tampilan, tapi supaya isi kepala bisa keluar pelan-pelan.
Baca juga: Rekomendasi Glamping di Lereng Gunung
Manfaat Melakukan Journaling Setiap Hari
Sejak rutin journaling, aku makin sadar kalau otak itu gampang lelah. Bukan karena kurang tidur, tapi karena kebanyakan mikir dan nyimpen semuanya sendirian.
Enaknya lagi, journaling itu doable. Nggak perlu lama-lama. Kadang lima menit nulis aja sudah cukup buat bikin kepala agak plong.
Enaknya lagi, journaling itu doable. Nggak perlu lama-lama. Kadang lima menit nulis aja sudah cukup buat bikin kepala agak plong.
Beberapa manfaat journaling yang paling kerasa buatku:
Pikiran jadi lebih ringan
Hal-hal yang tadinya muter terus di kepala, setelah ditulis rasanya kayak “dititipin” ke kertas.
Lebih ngerti perasaan sendiri
Kadang kita ngerasa capek atau bad mood tanpa tahu sebabnya. Pas ditulis, pelan-pelan kelihatan akarnya.
Overthinking berkurang
Pikiran yang ditulis kelihatan lebih jelas. Mana yang penting, mana yang ternyata cuma ketakutan.
Lebih fokus
Setelah journaling, biasanya aku merasa lebih tenang dan nggak gampang terdistraksi.
Punya ruang jujur tanpa takut dihakimi
Nggak perlu mikir tulisan ini bagus atau rapi. Yang penting jujur.
Journaling dan Hubungannya dengan Kerja Otak
Journaling bukan cuma terasa enak di hati, tapi juga ada penjelasan ilmiahnya. Menurut, James W. Pennebaker, journaling termasuk dalam kategori expressive writing, yaitu teknik menulis yang fokus pada emosi dan pengalaman pribadi.
Pennebaker menemukan bahwa menulis tentang pengalaman yang berat atau menantang bisa membantu mengurangi stres dan kecemasan. Bahkan, kebiasaan ini juga dikaitkan dengan peningkatan kesehatan fisik, seperti sistem imun yang lebih baik.
Beberapa penelitian lain juga menunjukkan bahwa journaling membantu otak dalam mengatur emosi dan mengambil keputusan. Saat pikiran dan kekhawatiran dituliskan, otak seperti memindahkan beban dari memori kerja ke luar kepala. Hasilnya, beban kognitif berkurang dan pikiran jadi lebih jernih.
Intinya, journaling bukan cuma soal curhat, tapi juga membantu otak bekerja dengan lebih ringan.
Journaling sebagai Alat Evaluasi Diri
Hal lain yang sering luput dibahas adalah proses evaluasi. Journaling nggak berhenti di menulis saja. Setelah beberapa waktu, biasanya kita akan sampai di tahap membaca ulang.
Saat membuka kembali halaman-halaman lama, aku mulai sadar:
- pola pikiran apa yang sering muncul,
- hal apa yang ternyata berulang bikin capek,
- keputusan apa yang dulu terasa berat tapi ternyata bisa dilewati,
- keinginan mana yang cuma lewat, mana yang benar-benar bertahan.
Menurut Pennebaker, membaca dan menulis ulang pengalaman pribadi membantu otak membentuk makna. Jadi, emosi nggak cuma diulang-ulang, tapi diolah jadi pembelajaran.
Baca juga: Menyelami Keindahan Bali
Rekomendasi Notebook untuk Journaling
Kalau kamu lagi cari notebook yang nyaman buat journaling, aku mau rekomendasikan yang selama ini aku pakai.
Aku pakai Bukuqu Classic Notebook B6 versi polos. Aku suka karena warna cover-nya manis dan ukurannya pas buat dibawa ke mana-mana. Nggak terlalu besar, tapi tetap nyaman buat nulis panjang.
Kertasnya warna krem dan cukup tebal, jadi enak buat nulis tanpa takut tembus atau cepat rusak. Menurutku, buku polos bikin journaling terasa lebih bebas. Mau nulis, coret-coret ide, bikin mind map, atau narik garis sesuka hati, semuanya bisa dilakukan tanpa batasan garis.
Kalau kamu juga sering merasa kepala penuh, pikiran numpuk, atau keinginan datang dan pergi tanpa sempat diurai, mungkin ini saatnya coba journaling. Nggak perlu nunggu hidup rapi. Nggak perlu nunggu mood sempurna. Cukup mulai dari satu halaman kosong dan satu kejujuran kecil ke diri sendiri.
Ambil buku dan pulpen, lalu tulis apa pun yang ada di kepala. Mau berantakan, nggak runtut, atau cuma satu paragraf pendek—nggak apa-apa. Konsistensi kecil jauh lebih penting daripada meunggu tulisan yang “sempurna”.
Siapa tahu, dari kebiasaan sederhana ini, kamu bisa memberi otakmu ruang istirahat dan menemukan kembali arah yang pelan-pelan sempat terlupa.
Selamat menulis dan semoga pikiranmu hari ini jadi sedikit lebih lega. ❤
Sumber:
Benefits of Journaling: The Science of Reflection
https://www.mindsera.com/articles/benefits-of-journaling-the-science-of-reflection?
Benefits of Journaling: The Science of Reflection
https://www.mindsera.com/articles/benefits-of-journaling-the-science-of-reflection?

0 Komentar